FILM KISAH MASA KECIL GANJAR PRANOWO 1

GANJAR PRANOWO LAHIR DARI KELUARGA SEDERHANA


sobat jarwo, foto kisah masa kecil ganjar pranowo

Diceritakan dalam buku itu, Ganjar Pranowo ditulis dilahirkan dari keluarga sederhana di sebuah desa di lereng Gunung Lawu, Karanganyar, dari ayah bernama Pamudji dan ibu, Sri Suparni. Ganjar Sungkowo, demikian nama awalnya, merupakan anak kelima dari enam bersaudara.


"Ganjar berarti hadiah dari Sang Pencipta, sedangkan nama belakang ini berhubungan dengan keadaan ketika Ibu mengandungku. Saat itu keluarga kami sedang banyak dirundung kesusahan. Sungkowo sendiri memiliki arti kesedihan," cerita diawal novel itu.


Namun, ketika memasuki masa sekolah, nama Sungkowo diganti dengan Pranowo. "Ibu dan Bapak takut kalau hidupku kelak selalu berkubang kesialan dan kesusahan bila memakai nama Sungkowo."


sobat jarwo, foto kisah masa kecil ganjar pranowo 2

Ganjar juga mengatakan ayahnya hanyalah seorang polisi dengan pangkat terakhir Letnan Satu. Bahkan, hingga Ganjar besar ibunya masih terbelit hutang dan baru lunas setelah anak-anak besar. Itupun dibantu anak-anaknya yang melunasi secara bergantian.  


DI USIR DARI RUMAH KONTRAKAN



 CHAPTER 1

Kisah masa kecil Ganjar Pranowo yang kini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah ternyata tak jauh beda dari masyarakat biasa kebanyakan. Ia pun pernah terusir dari rumah yang ditinggalinya bersama keluarga di Tawangmangu.


Hal itu karena rumah yang ditinggalinya akan digunakan pemiliknya. Sehingga ia dan keluarganya harus segera pindah dalam waktu dekat. Memang, sebelumnya rumah yang ia tinggali sudah dijual karena ingin pindah ke Karanganyar.


Ada kesepatakan dengan pembeli bahwa rumah itu sementara boleh ditinggali sembari ayah Ganjar mendapatkan tempat tinggal baru di Karanganyar. Namun, suatu ketika tanpa ada pemberitahuan, sang pembeli datang ke rumah dan meminta agar rumah itu segera bisa ditempatinya.


Pagi harinya, Ganjar dan keluarga terpaksa meninggalkan rumah dan menuju Karanganyar. Karena waktu yang mepet, keluarga itu pun terpaksa tinggal di rumah kontrakan yang sederhana, dan dekat dengan pabrik gamping.


Next to Chapter 2



Pages